Albana Cion : ” Efek Tidak Populer Dan Hanya Kejar Survey “
Pangkalpinang — Spanduk dan baliho dukungan kepada para calon walikota Pangkalpinang, periode 2018-2023 mulai ramai bermunculan di seantero wilayah Ibukota Penghasil Timah.
Yang seperti lazimnya jelang pilkada, pemasangan baliho itu dipasang berserakan di tiap lokasi strategis seperti tikungan jalan, ujung jembatan, diatas bangunan-bangunan.
Namun sayangnya, bagi para simpatisan atau timses calon, yang tidak (mau) paham dengan tata cara serta aturan pemasangan spanduk atau baliho, banyak ditemui terpasang di batang pohon sepanjang jalan raya.
Ditemui di lokasi baleho yang kebetulan roboh, salah seorang warga Pangkalpinang, Majid (56 tahun) yang berprofesi sebagai pemulung, justru bersyukur dengan banyaknya atribut peraga kampanye tersebut. ” Yah lumayan pak, kalo roboh ditiup angin, ya saya pungut, dan dijual perkilo ke pengepul plastik bekas,” katanya, Jumat, 03/11 di Pangkalpinang.
Sementara itu, salah satu tokoh pemuda di Pangkalpinang, Mirada Firmansyah (45 tahun), juga turut berkomentar, setelah dihubungi via ponsel, terkait fenomena pemasangan baliho para kandidat Pilwako Pangkalpinang 2018. ” Seharusnya para timses calon walikota juga ikut memikirkan faktor estetika dan keamanan. Sekarang begini, tanpa disadari jika diperhatikan ada beberapa baleho yang justru mengganggu jarak pandang pengguna jalan raya, misalnya di perempatan, dari arah berlawanan malah jadi tidak terlihat adanya mobil atau motor yang akan berbelok,” bebernya, via sambungan ponsel, Jumat siang, 03/11.
Lebih lanjut Mirada mengungkapkan, jika saja para calon walikota lebih memilih dialog secara intensif, pemaparan program unggulan secara kontinyu, serta bersedia melakukan kontrak politik pada pemilihnya, maka bukan tidak mungkin, masyarakat justru mengapresiasi mereka dengan lebih baik. ” Ketimbang menghamburkan bujet untuk tampil virtual secara gambar, tanpa adanya dialog dan komunikasi,” imbuhnya lagi.
Di kesempatan berbeda, Wakil Ketua Bidang Komunikasi dan Propaganda, DPD PDIP Babel, Albana Cion mengatakan, bahwa hal itu bisa disebabkan dari konsekwensi ketidak kepopuleran kandidat, baleho hanya pengenalan kandidat yang mengejar survey.
” Jadi jangan berharap di baleho semacam itu ada edukasi pemilih. Dengan desain dan penempatan baleho yang membanjiri sejumlah titik kadang menjadi sampah reklame, menggangu keindahan kota,” jelasnya, Jumat sore, 03/11. (LH)
Click to comment
Post a Comment